Featured Post

Danau Kelimutu dan Pesona 3 Warna Air yang Dilihat dari Langit

Keindahan Danau Kelimutu membuat banyak orang ingin ke sana. Tapi memang tidak mudah mencapai puncak gunung Kelimutu untuk menatap keind...

Friday, July 3, 2015

Keadaan Ende Pada Awal Abad XX (“Menelusuri Sejarah, Menemukan Hari Jadi Kota Ende” - bagian Ketiga)


Kantor Asisten Residen (Sekarang 
lokasi Rumah Jabatan Wakil Bupati)
Terbentuknya Onderafdeeling Ende

Setelah Belanda secara resmi berkuasa di pulau Flores dan dibentuknya onderafdeeling Ende pada tanggal 1 April 1915 yang tertuang dalam Indisch Staadblad No. 743,
selanjutnya Pemerintah Belanda mulai mengatur administrasi pemerintahan di wilayah Ende. Usaha yang dilakukan dimulai dengan mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil menjadi beberapa kerajaan besar yang diperintah oleh seorang raja yang berpengaruh, yaitu sebagai zelfbestuurder berdasarkan korte verklaring dari ratu Belanda, Wilhemina. Zelfbestuurder merupakan raja yang otonom yang memerintah kerajaannya sesuai dengan adat istiadat, namun tetap diawasi oleh seorang pegawai Belanda yaitu controleur atau gezaghebber.

Menurut ARN. J.H. Vsn Velden dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1914, di onderafdeeling Ende terdapat 20 kampung, dan yang utama yaitu di Ambugaga. Sedangkan penduduknya selain penduduk setempat juga terdapat orang Makasar, Bugis, dan orang-orang dari pulau-pulau sekitarnya, termasuk para hamba sahaya atau budak yang dirompak atau dibeli dari Sumba. Orang-orang yang tinggal di daerah pantai beragama islam, sedangkan yang tinggal di gunung dikatakan masih kafir (Velden, 1914: 28-29).

Kondisi Penduduk


Van Suchtelen mengungkapkan bahwa pada tahun 1917, di seluruh wilayah onderafdeeling Ende yaitu Tanah Rea, Ende, Ndona, dan Tanah Kunu V, penduduknya berjumlah 68.653 jiwa. Penduduk di ibukota Ende sendiri berjumlah 19.687 jiwa, yang terdiri atas 7.435 orang laki-laki, 4.752 orang perempuan, 3.985 orang anak laki-laki, dan 3,515 anak perempuan. Di ibukota Ende selain penduduk setempat (pribumi) juga terdapat orang-orang Eropa, Cina, dan Arab.

Perdagangan di Ende dilakukan melalui pelabuhan yang dalam dan disinggahi oleh kapal-kapal KPM. Pemerintah Belanda yang tinggal di Ende terdiri atas Asisten Residen, Controleur, seorang Kommis, Civiel Gezaghebber, seorang Kapiten dengan dua orang opsir, 120 orang tentara, seorang dokter tentara, dan agen KPM. Juga disebutkan bahwa, di Ende telah ada sebuah sekolah, sebuah rumah sakit tentara dan civiel (sipil), kantor pos (hulpposkantoor), gudang batu arang (batubara), dan toko-toko cina (Velden, 1914:28).

Prasarana Jalan


Prasarana jalan di Ende mulai dirintis pada tahun 1910 dengan pembuatan jalan raya dengan sistem kerja rodi. Pembukaan jalan yang dilakukan dengan kerja rodi itu menghubungkan satu kerajaan dengan kerajaan lain, dan satu kampung ke kampung lain. Bersamaan dengan itu, dibuka pula jalan raya yang menghubungkan Larantuka di Flores Timur dengan Reo di Manggarai Utara (Flores Barat) sepanjang 600 km. Kerja besar dengan menelan korban ratusan jiwa itu berhasil diselesaikan dan diresmikan pada hari ulang tahun ratu Wilhelmina yaitu pada tanggal 31 Agustus 1925. Untuk menunjang keuangan pemerintah, mulai tahun 1912 setiap penduduk diwajibkan untuk membayar pajak kepada Pemerintah Belanda. Keadaan Ende dengan tempat-tempat prasarana dan sarana pemerintah seperti kantor pos, rumah sakit, kantor telepon, kuburan umat kristen (Kerkhof voor Christenen), mesjid, sekolah, tempat tinggal Asisten Residen, dan sebagainya dapat dilihat dalam peta (lihat : Schetskaart van de onderafdeeling Endeh, Agustus 1918).


 Kerja Rodi Pembukaan Jalan di Flores 

  Watugamba (Titik Tengah Pulau Flores)  

Dengan datangnya Belanda di Ende, maka sistem administrasi yang teratur mulai diterapkan. Dari sumber-sumber yang diperoleh, menunjukan tersedianya berbagai prasarana dan sarana di Ende. Prasarana transportasi berupa jalan di kota Ende yang menghubungkan antar wilayah yang mulai dibangun sejak 1910. Dalam bidang komunikasi, telah tersedia kantor pos dan kantor telepon. Heterogenitas penduduk juga terpenuhi dengan adanya orang-orang Belanda, Cina, Arab, Bugis, Sumba, Sawu, Rote, dan etnis yang berasal dari pulau-pulau sekitar Ende. Kehidupan penduduk tidak hanya mengandalkan bidang pertanian saja, namun sudah ada yang hidup dari berdagang, sebagai tukang, kuli di pasar atau pelabuhan, sebagai pegawai di kantor-kantor pemerintah, dan sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa telah ada diferensiasi kerja atau terdapat spesialisasi non-agraris. Disamping itu juga mulai ada golongan yang berpendidikan dengan dibangunnya sekolah pertama di Ende pada tahun 1910 yaitu Volksschool (sekolah rakyat). Seperti dikemukakan oleh Gideon Sjoberg (1965: 25-31), bahwa ciri utama yang menjadi titik awal gejala kota adalah munculnya spesialisasi non agraris dan munculnya golongan yang berpendidikan.


 Jembatan Wolowona tempo doeloe 

Berdasarkan informasi yang ditemukan diatas, maka pada awal abad ke XX atau sekurang-kurangnya sejak 1 April 1915, dapat dikatakan Ende telah tumbuh menjadi sebuah Kota berupa kota administrasi, kota niaga, dan kota pendidikan. Letak kota itu di sekitar pusat kerajaan Ende yang letaknya strategis dan memiliki prospek ke depan yang baik. Susunan spasial kota administrasi ini berkisar disekitar lapangan yang kini disebut lapangan Perse yang kemudian diganti menjadi lapangan Pancasila. Di sekeliling atau lingkaran lapangan itu terdapat rumah tempat tinggal kepala pemerintahan seperti Asisten Residen, Controleur, dan pejabat lainnya.

 Pertokoan di Ende 

Bertitik tolak dari teori Gideon Sjoberg, persyaratan timbul dan tumbuhnya kota selain munculnya spesialisasi non-agraris dan adanya golongan yang berpendidikan, juga memiliki basis ekologi yang memadai. Wilayah Ende memiliki lingkungan alam yang cukup memadai. Untuk melihat bagaimana basis ekologi kota Ende, dibawah ini akan dikemukakan kondisi fisik kota.

Bintarto dalam bukunya berjudul “Pengantar Geografi Kota” mengemukakan bahwa, secara umum, sebuah kota dapat dilihat dari tanda-tanda pengenal kota. Tanda pengenal sebuah kota paling sedikit dapat dilihat dari 2 (dua) kenampakan, yaitu ciri fisik dan ciri sosial. Dari segi fisik yaitu adanya bangunan yang langsung dapat dilihat bila seseorang memasuki kota. Tanda pengenal kota Ende diawal abad XX tersebut berupa tempat untuk pasar, tempat untuk berekreasi, bangunan-bangunan pemerintahan, perumahan, prasarana dan sarana transportasi, serta fasilitas-fasilitas lainnya yang menunjukan ciri kekotaannya.


  Peta Situasi Kota Ende di Tahun 1917  
  (Peta ini  menunjukan dengan jelas adanya lapangan, ktr. Asisten Residen, Controleur, Ktr. Agen KPM,  
  Ktr. Infanteri, Ktr. Telepon, Kantor Pos, Pesanggrahan, Rmh. Dokter Tentara, Pasar,  
  Perkampungan China, Mesjid, Sekolah, Pekuburan Katolik, dan lain-lain)  


(dari : “Sejarah Kota Ende”, yang disajikan dalam Seminar Sejarah Kota Ende, pada tanggal 09 Agustus 2004 di gedung Ine Pare, Ende – Flores).

Pustaka Sumber :

============


Hotel dan Pesona Wisata di Ende :
Booking.com